Sporty Magazine official website | Members area : Register | Sign in

Archives

Segarnya Soto Kudus Depot Kolaborasi

13 May 2012

Bicara soto, pasti tak asing lagi bagi masyarakat Jawa Timur. Sebab, wilayah provinsi beribukota Surabaya ini juga sangat identik dengan makanan soto tersebut. Setidaknya ada dua macam soto yang terkenal mewakili nama besar Jawa Timur, yaitu soto Lamongan dan soto Madura. Oleh karena itu, kali ini saya tak akan membawahasnya. Sebab, saat ini saya sedang tertarik dengan soto Kudus.

Mendapatkan soto kudus di Surabaya tidaklah mudah. Dulu, saya harus menjelajahi kota untuk mendapatkannya. Sekitar dua tahun lalu saya pernah menjumpai sebuah depot soto kudus di kawasan Ngagel sebelum perempatan Baratajaya. Jualannya pun tak rutin, sehingga sampai sekarang pun saya belum pernah mencobanya.

Nah, kebetulan sekali beberapa waktu lalu saya mengajak seorang anak saya hunting kuliner tak jauh dari rumah. Kebetulan pas melintas di depan Warung Kincir Ketintang Permai, saya mendapati sebuah depot baru berdiri cukup gagah persis di depan warung wader. Namanya “Depot Koalisi”. Depot itu menghadirkan layanan ala pujasera dengan berbagai menu pilihan, yang salah satunya adalah soto Kudus.

Apa sih istimewanya soto kudus? Soto kudus merupakan menu khas daerah Kudus Jawa Tengah. Dalam penyajiannya ada dua pilihan, yaitu soto yang dihidangkannya menggunakan lauk daging kerbau atau irisan suwiran daging ayam. Nah, yang ada di depot depan warung wader itu adalah soto kudus yang menggunakan lauk suwiran daging ayam.

Secara sajian, menurut saya cukup cantik. Menggunakan mangkuk tak seberapa besar dan dilapisi sebuah lepek dengan sendok sup atau biasanya disebut sendok bebek. Ini merupakan ciri khas dari cara penyajian sotonya. Tempat penjualnya pun unik. Menggunakan rombong pikulan ala Madura, sehingga unsur ketradisonalannya juga ada.

Lalu bagaimana dengan isi dan racikannya? Soto kudus sebenarnya berbumbu sama dengan soto ala lamongan, bahkan uba rampe atau pelengkapnya pun tak jauh beda. Hanya saja soto Lamongan menggunakan poyah, sementara soto Kudus tanpa poyah. Lauk pelengkapnya dihidangkan terpisah berupa sate telur puyuh, telur rebus, jeroan, tempe goring, dan perkedel.

Dalam satu sajian, Soto Kudus terdiri atas kuah yang cita rasanya gurih dan segar yang bersumber dari lumeran serai dan jahe. Rasanya tentu masih kalah kuat dengan soto Lamongan yang lebih segar dan harum karena ada tambahan lengkuas dan daun jeruk purut.

Sementara isinya hampir sama, ada soun, taoge segar, irisan ayam dalam bentuk suwiran, disiram kuah soto, lalu ditaburi irisan bawang dan selandri juga bawang goreng. Penyerta utamanya adalah nasi putih yang langsung dimasukkan dalam racikan sajian soto. Seporsi cukup untuk mengganjal perut kosong saat makan siang. Sebagai penutup kebetulan di “Depot Kolaborasi” ada pilihan es cendol khas Bandung. Jadi, ya sekalian saja. Mumpung makan ala Kudus yang minum diteruskan saja ala Bandung. Hehehe… (arohman)

Porsi Menu Depot Selamet Gileee Benar

12 May 2012

Awal pekan lalu (10/5) saya mendapat undangan makan siang. Seperti biasanya kesempatan seperti ini saya gunakan untuk sekaligus mencoba rasa menu istimewa depot atau tempat makan yang telah dirujukkan. Kebetulan siang itu kami bersepakat makan siang sambil mengobrolkan sesuatu di Depot “Selamet” yang berada persis pojokan bangjo (abang ijo) alias traffic light Jl. Dr Moestopo sebelah kantor PDAM Surabaya, namun secara admisnistratif ikut wilayah Dharmawangsa. Tepatnya Jl. Dharmawangsa 6B Surabaya Timur.

Sepintas tempatnya tampak dari luar tak seberapa menjanjikan, karena kelihatan kecil dan pasti bising oleh lalu lalang kendaraan karena posisinya persis di pinggiran jalan. Tapi begitu masuk, ternyata di dalamnya terdapat ruangan cukup representatif untuk makan siang sekaligus bicara serius dengan rekanan.

Ruangan dalam itu ukurannya sekitar 6 x 8 meter dengan jajaran meja makan sebanyak 24 yang masing-masing dipasangi 4 buah kursi. Kondisinya lumayan bagus, dilengkapi pendingin ruangan dan pesawat televisi untuk menemani menyantap hidangan yang tertera di menu. Beberapa menu utama itu fotonya juga dipampang dalam pigura di dinding ruangan. Ada menu nasi goreng hongkong, sup buntut, sup asparagus, dan menu-menu istimewa andalan mereka yang berbasis chinese food.

Saya belum pernah mampir apalagi menyantap menu-menu istimewa depot “Selamet”. Begitu pun teman yang mengundang saya. Katanya dia dulu pernah mencoba minuman jusnya yang segar dan lega. Itu pun dia nikmati sepintas lalu di bagian luar depot yang berhadapan dengan jalan raya yang bising tersebut. Dia saat itu belum tahu bila ada ruangan nyaman di dalam, di balik dapur depot sebelah meja kasir.

Tak lama kami berbincang, akhirnya kami putuskan memesan menu masing-masing. Telebih dahulu teman saya memesan sup buntut dengan dua piring nasi putih. Agar tidak sama menu, saya kemudian memilih sup jagung kepiting. Awalnya tak ada masalah. Ketika sup datang dibawa pelayan ke meja makan kami, kemudian menyusul dua porsi nasi putih yang dengan lahap kami nikmati berdua. Sup ditempatkan dalam mangkuk ukuran besar penuh dengan kuah sup dan beberapa irisan daging dan tulang iga sapi. Tampak juga irisan wortel beberapa potong sebagai garnis dan penggugah selera.

Nah, masalah baru muncul ketika sup jagung kepiting pesanan saya datang. Kok masalah? Masalahnya dimana? Porsinya gilaaa bener. Satu mangkuk jumbo besar, hampir seukuran baskom. Lha siapa yang bisa menghabiskan sup sebanyak itu. Apalagi kami berdua baru saja menyantap sup buntut sebagai menu utama makan siang. Kami berdua bengong dan saling pandang.

Begitu pelayan berlalu dari meja kami, kami pun saling lempar tawa, sebelum mengambil mangkuk sup kecil beserta sendoknya yang telah disediakan untuk mengudapnya. Saya cukup menikmati kelezatan sup jagung kepiting tersebut. Di dinding tidak terpampang fotonya. Yang terpampang hanyalah sup asparagus yang bentuk dan rupanya mirip sekali dengan hidangan yang sedang kami nikmati perlahan-lahan. Sampai akhirnya kami berdua hanya mampu menghabiskan beberapa seruputan sup yang kami pindahkan ke mangkok makan. Dan alternatif terakhir adalah membawa pulang sisa sup tersebut dengan meminta tolong pelayan untuk terlebih dahulu membungkusnya.

Nah, setelah mendapati pengalaman lucu tersebut, kami pun coba memperhatikan suasana sekitar dalam ruangan depot “Selamat”. Ternyata para pengunjung lain yang makan di sebelah dan depan meja kami memesannya menunya hanya satu macam menu utama untuk dimakan berdua. Dan benar sekali, memang depot “Selamet” memiliki ciri khas yaitu menyajikan menunya dalam porsi untuk dimakan lebih dari satu orang. Jadi, lain kali kalau makan di sana pasti saya akan mengajak lebih dari satu orang supaya bisa menghabiskan menu yang disajikan. Mubazir kan kalau sudah dibayar namun tak dimakan. Seperti pengunjung yang ada di belakang meja kami. Rupanya mereka seperti kami, belum pernah mampir dan makan di depot “Selamet” sehingga dalam satu meja pesan beberapa menu. Alhasil menu-menu itu hanya diacak-acak setelah hanya memakan sebagian kecilnya.

Soal kualitas rasa dan penyajiannya, depot “Selamet” boleh dikatakan cukup enak dan bagus. Hampir seluruh menunya enak-enak dan harganya cukup terjangkau. Meski kuantitasnya banyak, harganya tergolong standar, lho… Tak percaya? Silakan mampir dan coba sendiri deh. Tapi sekali lagi ingat, bawalah teman untuk makan di sana. Hahaha…

Usai makan kenyang dan menghabiskan sebotol temu lawak dengan campuran es batu, akhirnya saya pun balik ke kantor dengan menahan kantuk. (arohman)

DAFTAR MENU ANDALAH

Bakmi Goreng. Rp. 18.000,-

Nasi Goreng Kepiting. Rp. 18.000,-

Koloke Main. Rp. 22.000,-

Angsio Tahu. Rp. 21.000,-

Fu Yung Hai. Rp. 21.000,-

Sup Buntut Rp. 22.000,-

Sup Jagung Kepiting Rp. 35.000,-

Wiskul Lontong Kupang “Mbah Yo”

19 March 2012


Tengah hari yang redup, di jalanan yang masih menyisakan beberapa petak sawah di sekitaran Jambangan, aku mampir ke Pujasera Kebonagung di Jl. Jambangan Kebonagung Surabaya. Sambil memandangi para petani menanam bawang di gundukan-gundukan tanah sawah yang sudah dikeringkan, aku memasan seporsi lontong kupang. Mengapa lontong kupang? Karena kepingin. Titik.

Penjualnya bernama Mbah Yo. Tak tahu persis berapa usainya, tapi yang jelas sudah pantas dipanggil “embah”. Lah memang sudah tua. Hehehe…

Ketika aku pesan, Mbah Yo langsung menyambut, “Silakan duduk dulu…” kalimat itu bisa jadi merupakan permohonan untuk bersabar, karena memang dia sedang melayani beberapa pelanggannya yang sibuk totalan usai menyantap lontong kupang pesanannya. Baru setelah beres dan pengunjung-pengunjung itu meninggalkan tempat duduknya, giliran perhatian Mbah Yo dicurahkannya padaku.

“Pedas apa sedang?” aku langsung menyahut, “Sedang!”

Lalu dengan tangan tuanya dan agak lambat, Mbah Yo pun perlahan menyiapkan pesananku. Mulai dari mengiris lontong sampai meracik bumbu dan menyiramkan kuah hingga menambahkan perasan jeruk nipisnya. Aku melihatnya sudah kemecer. Pingin ngiler rasanya… serasa kecutnya jeruk nipis itu sudah berpadu dalam liukan lidahku. Bahkan aku sudah terbayang manisnya kupang yang sudah teraduk jadi jadi satu dengan bumbu dan kuahnya yang sedikit agak pedas itu. Oh, lontong kupang…

Setelah menahan diri penuh kesabaran, akhirnya aku pun mendapat sepiring lontong kupang. Aku perhatikan kupangnya tidak begitu banyak, namun aroma bumbunya yang masih mengepul tetap menjanjikan kenikmatan tersendiri. Sluruupp… benar, pedas, kecut (masam), dan manis menyatu jadi rasa yang membuat lidah para pecinta kupang lontong ketagihan dibuatnya.

Seporsi lontong kupang kupang disajikan panas-panas sangat enak untuk dinikmati. Apalagi lentho gorengnya dibiarkan utuh membulat bak gulungan benang. Tidak diremas seperti penyajian di penjual lontong kupang lainnya.

Lenthonya sangat nikmat. Manis dan lumer tatkala sudah terendam dalam kuah yang berasa pedas masam. Rasanya jadi cukup rame seperti iklan sebuah permen.




Tak lupa juga sate kerangnya. Dengan hanya mengandalkan bumbu berupa kecap manis dan cabe, sate kerang Mbak Yo begitu kenyil dan enak. Tak percaya…? Coba saja mampir dan mencobanya. Dan, sebagai penutupnya saya pesan es degan. Mengapa es degan, karena ada yang mengatakan kupang itu kadang menyebabkan ‘mendhem’ alias keracunan bagi yang tidak tawar atau alergi. Jadi, setelah manyantap lontong kupang lalu minum degan atau kelapa muda kemungkinan besar racunnya bisa dinetralisisasi dan tak mengganggu kenikmatan berkuliner ria.

So, selamat ber-KLB (Kuliner Luar Biasa!). (arohman)

Kangen Rawone Pak Paidi

06 March 2012


Gerimis lembut yang luruh dari angkasa membuat kantukku sepanjang perjalanan tergugah begitu saja. Tak terasa ternyata sudah tiba di kawasan kampus Unesa Ketintang. Suasananya begitu berbeda. Tampilan gerbangnya menampakkan nuansa lain dari biasanya. Walau pun terdapat banyak serakan bahan bangunan di sana-sini yang menandakan bahwa masih sedang dilakukan pembangunan, namun nuansa keindahan itu sudah tampak. Sepertinya, bila sudah selesai pembangunannya nanti pasti semakin cantik untuk dinikmati.

Di depan pintu gerbang sebelah kanan masih tetap setia; deretan Kopma, Kantor pos, dan mini swalayan, serta markas besar Menwa. Hampir sama seperti 18 tahun silam ketika untuk kali pertama menginjakkan kaki di bumi kampus Ketintang. Hanya saja, dulu terdapat kantor BNI di sana.

Sedikit belok ke kanan dari pertigaan gerbang itu, masih bertahan di sana sebuah warung kenamaan dari masa ke masa, yaitu warung Pak Paidi. Tempat dan tampilannya pun tak berubah. Nah, entah kenapa kok tiba-tiba saja tadi sangat kepingin mampir. Kangen rawone Pak Paidi, hehehe…

Suasananya tak begitu ramai, mungkin sudah jam pulang kuliah, jadi hanya ada dua orang mahasiswa berjilbab yang tampak serius membicarakan beasiswa yang akan mereka dapat sambil mengacak-acak makanan dalam piringnya. Sepertinya mereka tak selera makan. Di sebelahnya tampak bapak-bapak sedang asyik menikmati sayur asem dengan begitu lahapnya. Kontradiktif sekali, gumamku dalam hati.

Aku langsung ke bagian dapur memesan rawon. Sepertinya yang meracikkan adalah putri Pak Paidi. Wajahnya sangat familier, walau aku tak mengenalnya. Hehehe… Begitu pula si embak, agaknya dia juga menyimpan tanya dalam pandangnya; antara kenal dan tidak denganku. Kok ge-er sendiri …? Aku menebak saja begitu, karena memang semasa awal-awal menikah

Sambil menarik sebuah kursi bulat aku memilih tempat yang nyaman membelakangi pintu. Kuletekkan tas dan kutarik sebungkus kerupuk pelastikan. Kunikmati gurih dan renyahnya kerupuk itu sembari menanti rawon pesananku diantar. Tak lama kemudian diantarlah seporsi rawon dalam piring lengkap dengan nasi. Kuahnya ngecembeng berwarna pekat menandakan murah bumbu. Di atasnya terdapat irisan daging empal tipis melebar dan dilengkapi pula dengan taoge pendek dan serpihan bawang goreng, sehingga langsung mengundangku untuk mencobanya.

Cecapan dari sendokan pertama mencitrakan rasa rawon legendaris racikan warisan Pak Paidi tak berubah. Rasa keluwek, kemiri, bawang putih, bawang merah menyatu jadi satu dengan harumnya daun jeruk dan serai. Jauh dari kesan pedas, meski disertakan cabai di dalamnya. Justru rasanya sedikit manis- asem dari asam jawanya. Mungkin inilah yang membuat rawon Pak Paidi ngangeni.

Seporsi rawon itu kulahap penuh penjiwaan sendok demi sendok. Sesekali kucampurkan sambal yang disertakan di atasnya agar semakin berasa nikmat. Panas dan pedasnya pun akhirnya mengundang bulir demi bulir keringat sehingga membuat makan siang ini menjadi kian nikmat luar biasa. Keringat makin gobyos ketika kuseruput teh manis hangat sebagai pamungkasnya. Lengkap sudah nikmatnya menu rawon Pak Paidi kali ini. Alhamdulillah, dengan Rp. 13.000,- dapat kunikmati dan kutuntaskan rinduku pada rawone Paidi. (arohman)

Pelajaran Hidup Sesungguhnya

28 January 2012


AKHIR Januari ini sebuah buku inspiratif lahir dari tangan dingin seorang pemerhati dan praktisi pendidikan. Pengalaman dan aksi nyata yang telah dilakukannya sebagai upaya untuk menjadikan pendidikan di Indonesia lebih berkualitas tersusun apik dalam tulisan-tulisan yang terangkum dalam buku “Catatan Waktu (Cawat); Tuhan Sedang Sibuk” ini. Bukan rana pendidikan semata yang diabadikan dalam tulisan yang semula diarsip rapi di blognya itu, ada beberapa tema lain yang sangat dikuasinya, seperti isu masalah lingkungan, keagamaan, juga isu sosial dan budaya.

Gaya tulisannya yang mengalir tersaji begitu simple namun berbobot. Topik yang diangkat pun sebenarnya permasalahan-permasalahan keseharian, ringan tapi memiliki point khusus untuk disampaikan kepada pembacanya. Sama sekali tak ada kalimat mubazir dari uraian yang disampaikan. Dari total 128 judul tulisan yang terbagi dalam 3 bagian atau bab; Catatan Pertama: Perjalanan Mendidik Bangsa, Catatan Kedua: Teropong Waktu, dan Catatan Ketiga: Menyeka Keringat Kehidupan kesemuanya bermuara pada pembelajaran hidup tanpa kesan menggurui sama sekali.

Tak salah bila kemudian Gatot Prio Utomo (Aktivis NU Circle) yang memberikan sambutan pengantar buku ini mengungkapkan bahwa kesejatian dan orisinalitas goresan di buku ini justru lebih layak untuk dikutip dan dijadikan referensi bagi tulisan-tulisan lainnya. Setiap goresannya tidak hanya melulu mengungkapkan hal-hal ideal yang biasa dilontarkan banyak motivator, tetapi juga menyerap berbagai pelajaran sukses dan gagal seperti layaknya hidup manusia. Menurutnya, sang penulis berani masuk ke tengah pusaran dan terlarut sehingga mampu mengapungkan saripati kehidupan dari dasarnya.

Ada banyak pengalaman hidup yang bisa dijadikan pelajaran dari tulisan-tulisan Ahmad Rizali dalam buku ini. Pelajaran yang berasal dari pahitnya kegagalan diungkapkan tanpa ditutup-tutupi oleh Nanang, —panggilan Ahmad Rizali—dan justru menjadi sebuah cara instrospeksi mahadahsyat. Jelas sekali, bagaimana Nanang mengisahkan bagaimana hatinya sebenarnya tercabik-cabik menghadapi ‘kenakalan’ putranya hingga harus tinggal kelas. Padahal dirinya dikenal sebagai aktivisi di dunia pendidikan. Di sana, Nanang bukanlah marah atau bisa jadi menghajar sang anak karena malu kepada keluarga besarnya yang diceritakan sangat berhasil dalam pendidikan. Toh, Nanang malah mendukung dan memberikan jalan terlapang bagi anaknya untuk menentukan jalan hidup atau sekolahnya sendiri hingga akhirnya mengantarnya masuk ke perguruan tinggai ternama di negeri ini. Semua itu dipaparkan Nanang dalam tulisan berjudul “Ketika Anakku Tidak Naik Kelas”.

Pada sisi lain, Nanang juga sangat piawai mengajak pembacanya bersedia untuk peduli dan meneladari orang lain. Contohnya dia lakukan terhadap seorang guru Fisika dari sebuah kota Malang dalam tulisan “Pak Tjandra sang Guru Sejati”. Pak Tjandra yang bermodalkan barang-barang bekas yang disulap menjadi alat peraga luar biasa untuk labolatorium fisika, diantarkan Nanang menjadi selebritis pendidikan hingga mampu menggapai impian sang guru tersebut merealisasikan impian-impiannya.

Dalam urusan agama, Nanang termasuk sangat relegius. Hal itu bisa dilihat dari deretan tulisan yang sangat menginspirasi di buku ini. Walaupun sebenarnya tulisannya diambil dari hal-hal remeh dalam kehidupan beragamanya, tetap secara dalam dia memberikan pembelajaran bagaimana cara menjalankan ibadah yang ikhlas. Dia sama sekali tak mempersoalan pertentangan bagaimana Salat Tarawih yang dilakukannya, pengalaman-pengalaman ritual puasa Ramadan semasa kecil di pedalaman Kalimantan hingga di Glasgow, Skotlandia. Dan masih banyak lagi catatan relegius penulis, yang kesemuanya berasal dari pengalaman beragama yang sangat mengasyikkan untuk diikuti.

Buku ini komplet sekali sebagai referensi ketika pembaca menginginkan suatu motivasi hidup. Pelajaran-pelajaran hidup dalam “Cawat; Tuhan Sedang Sibuk” ini sangat realistis dalam kehidupan sehari-hari, bahkan mungkin sekali dialami oleh setiap pembaca sendiri. Membaca buku ini, seakan kita bercermin pada bayangan diri seorang Ahmad Rizali yang ingin berbagi kisah pribadi dan masyarakat yang kerap digaulinya sehari-hari. Pertentangan dalam realita hidup yang kadang tidak mampu dinalar secara biasa itu akhirnya menyimpulkan bahwa mungkin Tuhan sedang sibuk sehingga membuat banyak hal tak terjawab dalam setiap doa. Wallahu’alam. *

Judul Buku: Catatan Waktu (Cawat): Tuhan Sedang Sibuk
Penulis: Ahmad Rizali
Penerbit: CBE Publishing
Halaman: xi + 362 hlm, ; 20 cm.
Cetakan Pertama: Februari 2012
Peresensi: Abdur Rohman, SPd

Gong Xi Fa Cai

23 January 2012


Hampir sepuluh tahun terakhir aku selalu merayakan tahun baru, tiga kali dalam setahun. Kok bisa? Ya tentu. Selain pergantian tahun masehi yang lazim dirayakan setiap malam 31 Desember, saya juga turut merayakan Tahun Baru Hijriyah setiap 1 Muharram, serta satu lagi yaitu Tahun Baru Imlek yang biasa dirayakan masyarakat Tionghoa.

Meski perayaan Imlek baru bisa dirayakan dengan bebas penuh kemeriahan di negeri ini sejak pemerintahan Gus Dur (Presiden KH Abdurrahman Wahid), namun secara budaya, aku sudah memahami betapa agungnya perayaan Imlek. Walaupun aku seorang Jawa -muslim, namun semangat keberagaman begitu aku nikmati. Apalagi setelah tahun 2004 setiap Imlek dijadikan hari libur nasional, tentu semakin berasa makna Imlek sebagai hari besar yang diakui di negeri ini.

Keakrabanku dengan nuansa Imlek tak lepas dari pekerjaan harian yang banyak berkutat dengan sesuatu yang berkaitan dengan masyarakat Tionghoa. Pimpinan, kawan, dan rekan sekantor awalnya banyak dari mereka yang warga keturunan itu pada mulanya juga sempat membuatku merasa kurang nyaman. Namun karena kita bekerja profesional lama kelamaan akhirnya juga mampu meleburkanku kepada kebiasaan mereka, meski sebagian dari mereka ada juga yang tetap menjaga jarak dengan orang sepertiku yang bukan dari kalangannya. Tak masalah. Itu urusan mereka.

Kegiatan Imlek yang kebetulan sepuluh tahun terakhir ini hadirnya tak jauh akhir maupun awal tahun Masehi, turut menanamkan rasa tersendiri dalam kehidupan kantorku. Moment Imlek bahkan kerap dijadikan sebagai wahana saling mendekatkan diri antarkaryawan dengan menyelenggarakan acara semacam family gathering. Biasanya kantor menyewa sebuah restaurant untuk acara makan bersama dengan selingan pembagian angpau atau kado kejutan. Walau sebenarnya kini kebanyakan karyawan kantorku adalah orang-orang berkulit sawo matang (pribumi) sepertiku, namun tetap saja ada rasa emosional dengan keberadaan Imlek. Mungkin itu bisa terjadi karena selama ini telah terjadi rasa saling memahami dan menghormati budaya masing-masing. Hal itu biasa kami lakukan saat perayaan hari raya seperti Imlek dengan saling mengucapkan Gong Xi Fa Cai, yang aku sendiri tak pernah tahu apa artinya, atau ketika Idul Fitri kita sesame rekan sekantor saling menghaturkan Minal Aidin wal Faizin dalam halal bihalal perusahaan.

Kini, Imlek sepertinya sudah dimiliki oleh negeri ini setelah sekian puluh tahun sempat terpejara karena dianggap sebagai budaya negatif. Imlek tak ubahnya perayaan 1 Syuro (Tahun Baru Islam, 1 Muharram) yang diperingati oleh Umat Islam, khususnya oleh masyarakat Jawa. Keberadaannya merupakan gabungan dari ajaran budaya dan keagamaan yang melebur sebagai aktivitas masyarakat yang benar-benar adi luhung.

Imlek sendiri merupakan spirit mawas diri bagi siapa pun yang akan menghadapi tantangan masa depan secara lantang. Mungkin karena itu pula, di setiap pergantian tahun China selalu akrab juga dengan adanya perhitungan peruntungan berdasar kalender (Lunar) dengan pengaruh keduabelas shio yang dipercai dapat dikendalikan melalui perhitungan fengshui sesuai tradisi nenek moyang masyarakat Tionghoa.

Akhirnya, semoga di tahun Imlek 2563 yang bertepatan dengan Tahun Naga Air ini, kita semua mampu melakukan yang terbaik untuk kemaslahatan segenap umat manusia. Gong xi fa cai… (arohman)